Mengapa Harus Ada Rasa Kecewa?

Mengapa Harus

Ada

Rasa Kecewa?

Source: khairil

Pernahkah anda merasa kecewa? Pernahkah
anda merasa hampa? Pasti, selagi kita
bernama manusia, selagi sampan kehidupan
ini kita dayung di lautan kehidupan di

dunia yang penuh dengan dengan ombak
dugaan dan taufan ujian, semestinya rasa
yang menyakitkan itu pernah hinggap di
dalam hati kita, bukan? Mengapa harus

ada rasa kecewa? Mengapa perlu ada
airmata duka? Dan bagaimana pula kecewa
itu boleh lahir? Bukan kah indah hidup
ini seandainya tiada derita?

Pertanyaan-pertanyaan sedemikian selalu
benar mengetuk pintu benak kita, di saat
kita dilanda rasa kecewa. Benar, bukan?
Dan memang benar juga, bahawa tidak

ada kecewa yang menggembirakan atau
diundang.

Kecewa berasal kegagalan kemahuan
ditunaikan. Dengan adanya tuntutan,
kemahuan ataupun kehendak diri dan hati
yang tidak dipenuhi ataupun tidak dipenuhi

dengan sempurna. Tuntutan, kemahuan
ataupun kehendak dalam diri manusia
adalah tidak ada batasnya. Adakalanya,
kita meletakkan harapan kita pada sesuatu

ataupun pada sesama manusia, yang mana
kemudiannya kita dihempap rasa hampa
kerana harapan kita itu tidak
terlaksana. Maka dengan itu, sebaik-baik
tempat

untuk kita gantungkan sejuta harapan
adalah kepada Allah s. w. t. Kerana Dia
tidak pernah menghampakan kita hambaNya
yang lemah tak bermaya. Sekalipun apa

yang diberinya tidak seiring dengan apa
yang kita idamkan, namun, bagi mereka
yang telah tanamkan pohon taqwa dan
harapan kepada Allah s. w. t., akan

menyedari dan memahami bahawasanya,
Allah itu, Maha Mengetahui.... tidak
akan diberikan sesuatu, melainkan hanya
untuk kebaikan kita, hambaNya yang hina...

Pernahkah kita sedar, bahawa kecewa
sebenarnya satu perasaan yang akan
membangkitkan rasa-rasa yang lain? Rasa
kecewa boleh mendorong perasaan cemburu,
iri

hati, dengki, putus asa, lemah semangat,
rendah diri, serta pelbagai lagi
perasaan yang lain, dan
perasaan-perasaan itu boleh pula menjadi
penyebab kepada

perbuatan yang kita akan lakukan untuk
mengurangkan atau melarikan diri dari
rasa kecewa itu. Walau bagaimanapun,
rasa kecewa itu juga sebenarnya adalah

penawar yang pahit tapi mujarab untuk
menyembuhkan penyakit jiwa yang
seringkali jangkitannya terkena pada
kita. Malah, kecewa juga boleh menjadi
satu batu

loncatan untuk kita melompat dengan
lebih tinggi dan bisa menjadi satu
bentuk rasa yang mampu melahirkan suara
hati, kemudian pula kemahuan dan akhirnya

menjana tenaga yang membuahkan tindakan,
yang pastinya sesuatu yang positif untuk
melahirkan sesuatu yang positif juga.

Asas kehidupan adalah perjuangan.
Perjuangan dalam peperangan, dan dalam
setiap peperangan, yang menjadi
pertaruhan adalah kalah atau menang,
jarang yang

seri. Amatlah besar bahaya perjuangan
ini sekiranya kita hanya bergantung
dengan prestasi dan kekuatan yang rapuh.
Sepertinya kita bergantung kepada ranting

yang rapuh, yang mana ranting itu
sendiri sebenarnya tidak punya kuasa
untuk melindungi dirinya sendiri,
apatahlagi yang bergantung padanya.
Malah, kenyataan

hidup menyaksikan, bahawa semua yang ada
di dunia ini adalah terbatas oleh ruang
dan waktu. Ada mula, ada akhirnya, boleh
rosak, boleh berubah. Tiada yang

sempurna, sesempurna Dia, yang Maha
Sempurna.

Sedarkah kita, bahawa kecewa dan
dukacita itu, dapat membuang
kemunafikan, kepura-puraan kita, membuka
ruang diri dan mengungkapkan sebagaimana
apa adanya.

Dalam keadaan yang penuh kesakitan ini,
kita tidak pernah mampu lagi menipu
diri. Maka, sekiranya peribadi yang utuh
itu milik kita, insyaAllah, kita mampu

menerima luka itu sebagai berkat dan
kurnia, jika sebaliknya, pasti kita
menjatuhkan sumpah dan kutukan kepada
luka dan kecewa itu tanpa berusaha
mengenali

dan mencari penawar untuknya.

Kecewa, dan duka, adalah ubat bagi jiwa
untuk mengenal banyak hal. Contohnya,

- merobohkan penghalang yang membataskan
hubungan antara kekuatan jasmani dengan
kekuatan rohani

- menggantikan kebiasaan lama dengan
yang baru (yang lebih baik)

- membuat kita bermuhasabah dan kenal diri

Bergantung kepada penerimaan, kecewa
bisa saja melontarkan kita dalam gaung
kemusnahan, bila kita menerima kecewa
itu sebagai satu bencana, dan melawan kuasa

alam.

Kehancuran diri, seperti menyiksa diri
dengan mengambil alkohol, membiarkan
diri hanyut dengan arus kemaksiatan,
lemah semangat dan tidak mahu hidup,
ataupun

melepaskan dendam kecewa itu kepada
orang lain, adalah antara akibat yang
timbul dari penerimaan yang menerima
kecewa sebagai satu bala dan tidak redha ke

atas ia. Pendek kata, kecewa akan
menimbulkan rasa kasihan pada diri
sehingga menyebabkan kita lemah, jika
kita enggan menerimanya dari sudut yang
positif.

Sebaliknya, jika kita menerimanya
sebagai satu hadiah dari Tuhan, kita
akan menyedari, kecewa dapat
menyembuhkan banyak penyakit hati
contohnya kesombongan

dan mementingkan diri, menjadi satu
kekuatan luar biasa, yang tak pernah
kita duga, untuk bangun dari rebah,
berkuasa untuk berubah dan berupaya untuk

mengubah, dan seribu satu macam lagi
kejernihan dan kemanisan kecewa yang
bakal kita kecapi dari kecewa.

Dalam menghadapi hidup, kita merempuh
segunung batu halangan sebelum sampai ke
destinasi tujuan. Sebelum kita mencabar
gunung batu itu, tetapkanlah dulu hala

tuju. Pastikan, hidup dan mati hanya
untuk Allah. Hidup, yang membawa makna,
makan, minum, duduk, bangun, kerja,
rehat, bertemu dan berpisah, bercinta,

berumahtangga, diniatkan dengan lafaz
Lillahi Ta’ala. Kerana Allah Yang Esa.
Mati, yang bermaksud, tempat rehat bagi
kita sementara waktu menanti hari kita

dibicarakan, dijatuhkan hukuman, dan
menimba pembalasan. Maka, sinambungan
dari hidup tadi, adalah sebagai bekalan
dan tempat kita berusaha supaya tidak

nanti kita gelincir dari Siratul Mustaqim.

Sekiranya kita sudah tanamkan hal yang
sedemikian dalam jiwa, dan tahu
bahawasanya Allah s. w. t. sentiasa
menemani, melindungi dan menyayangi
kita, bahawa

kita tak pernah keseorangan walau dalam
apa keadaan pun jua, percayalah, anda
sudah tidak gentar lagi untuk menyahut
cabaran gunung batu itu, walau setinggi

mana pun juga. Cubalah praktikkan dalam
kehidupan seharian kita, insyaAllah,
kita akan merasai perlindunganNya.
Kerana, yang perlu kita takutkan adalah
Yang

Menciptakan gunung itu, bukan gunung itu.

Bersihkanlah kecewa itu dari rasa putus
asa. Bersihkan kecewa itu dari duka yang
menjadi sumber godaan syaitan yang
terbaik untuk menyesatkan kita.

Bersihkanlah kecewa itu dari kutukan
yang menghilangkan hikmah dari pandangan
mata. Bersihkanlah kecewa!

                            

Exactly what is Success?

Exactly what is Success?

Author: Jim Bouchard

Source: Khiril

Is success measured by how much money
you have? How happy you are? How
satisfied? Is success really just up to you?

Here's the Merriam-Webster definition:

noun:

1) satisfactory completion of
something.

2) the gaining of wealth and
fame.

3) one that succeeds.

I especially like the first definition.
Success is the "satisfactory completion
of something", but the satisfactory
completion of what?

I've come up with this formula:

S=GxA

"S" is success, "G" stands for goals,
and "A" for achievement. Success is the
result of your goals multiplied by the
number of times you achieve your goals.

In other words, the more times you
achieve your goals, the more successful
you are.

Simple…

But definition number two says "the
gaining of wealth and fame". Can you
really be successful without wealth and
fame? I don't think so. However, the way
you

define wealth and fame is very important
in determining your personal vision of
success.

In the Dynamic Components of Personal
Power philosophy wealth means to have
"enough". You need enough to create
satisfaction in 3 areas of life: material,

emotional and spiritual. Wealth means
having abundance in each of these areas.
What constitutes abundance in each area
depends entirely on your personal

needs and desires.

Fame is the people you know and the
people who know you. You can't create
success in a vacuum. You need people who
need your services, and you need people

who can help you create and deliver
those services.

I'd have to say that to be successful;
you have to develop wealth and fame. The
rest is really up to you!

This is why goals are so important. You
decide exactly what your goals and
ambitions are. The more often you design
goals specific to your vision of success,

and the more often you achieve your
goals, the more successful you become.

That's why someone may have a lot of
money without feeling successful. That's
why people who control others by fear
and domination are not necessarily

successful, only feared and tolerated
for a time.

On the other hand, you may be very well
respected and admired and feel a great
spiritual connection with the universe,
but if you don't have enough money you

also may feel like a failure.

There are people who have very little
money and still feel successful
materially, emotionally and spiritually.
I admire these people. Remember, anyone who

has "enough" can be successful. Only you
can determine what "enough" is for you is.

So, how does one become successful?

Pay attention to all three areas,
material, emotional and spiritual. Set
goals in each area and achieve those
goals. It's really that simple.

Of course, things don't always go the
way you planned. One of the most
interesting traits of successful people
I've found through my study is that
successful

people fail... a lot! They're also the
ones who pick themselves up, dust
themselves off and…you know the rest!

Create a big picture vision of your
ultimate success. Then set manageable
goals that take you incrementally toward
this ultimate success.

Keep setting goals. Keep achieving as
many goals as possible. Inevitable
failures become of the learning curve
leading to your ultimate success.
Failure is

just tuition! When you experience
failure, set goals that help you make a
course correction and orient yourself
back toward success.

S=GxA

In my formula you can see that the more
goals you set and achieve, the greater
your feeling of success. Be sure to use
a balanced approach in your goal

setting and take care of all the
important areas of your life. Determine
what "enough" is for you and go for it!

Then you can apply the third definition
of success to yourself:

3. One who succeeds!

Menikmati Kritik Dan Celaan

Kejernihan dan kekotoran hati seseorang
akan tampak jelas tatkala dirinya
ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan
orang lain. Bagi orang yang lemah akal
dan imannya, nescaya akan mudah goyah
dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri
sendiri dengan menghabiskan waktu untuk
memikirkan kemungkinan melakukan
pembalasan. Mungkin dengan cara-cara
mengorek-ngorek pula aib lawannya
tersebut atau mencari dalil untuk
membela diri, yang ternyata akhir dari
perbuatannya tersebut hanya akan membuat
dirinya semakin tenggelam dalam
kesengsaraan batin dan kegelisahan.

Persis seperti orang yang sedang duduk
di sebuah kerusi sementara itu di
bawahnya ada seekor ular berbisa yang
hendak mematuk kakinya. Tiba-tiba datang
beberapa orang yang memberitahu bahaya
yang bakal mengancam dirinya itu. Yang
seorang menyampaikannya dengan cara
halus, sedangkan yang lainnya dengan
cara kasar. Namun, apa yang terjadi?

Setelah ia mendengar pemberitahuan itu,
diambilnya sebuah pemukul, lalu
dipukulkannya, bukan kepada ular namun
kepada orang-orang yang memberitahu akan
adanya bahaya tersebut.

Lain halnya dengan orang yang memiliki
kejernihan hati dan ketinggian akhlak.
Ketika datang badai kritikan, celaan,
serta penghinaan seberat atau sedahsyat
manapun, dia tetap tegar, tak goyah
sedikit pun. Malah ia justeru dapat
menikmati kerana yakin betul bahawa
semua musibah yang menimpanya tersebut
semata-mata terjadi dengan izin Allah
Azza wa Jalla.

Allah Maha Mengetahui segala aib dan
cela hambaNya dan Dia berkenan
memberitahunya dengan cara apa saja dan
melalui apa saja yang dikehendakiNya.
Terkadang terbentuk nasihat yang halus,
adakalanya melalui perbualan dan senda
gurau seorang teman, bahkan tidak jarang
berupa cacian teramat pedas dan
menyakitkan. Ia pun dapat muncul melalui
lisan seorang guru, ulama, orang tua,
sahabat, adik, musuh, atau siapa sahaja.
Terserah Allah.

Jadi, kenapa kita harus menyusahkan diri
membalas orang-orang yang menjadi jalan
keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya
kita bersyukur dengan sebesar-besar
kesyukuran kerana tanpa kita bayar atau
kita member gaji mereka sudi meluangkan
waktu memberitahu segala keburukkan dan
aib yang mengancam amal-amal sholeh kita
di akhirat kelak.

Kerananya, jangan hairan jika kita
saksikan orang-orang mulia dan ulama
yang sholeh ketika dihina dan dicaci,
sama sekali tidak menunjukkan perasaan
sakit hati dan keresahan. Sebaliknya,
mereka malahan bersikap penuh dengan
kemuliaan, memaafkan dan bahkan
mengirimkan hadiah sebagai tanda terima
kasih atas pemberitahuan ehwal aib yang
justeru tidak sempat terlihat oleh
dirinya sendiri, tetapi dengan penuh
kesungguhan telah disampaikan oleh
orang-orang yang tidak menyukainya.

Sahabat, bagi kita yang berlumuran dosa
ini, haruslah senantiasa berwaspada
terhadap pemberitahuan dari Allah yang
setiap saat boleh hadir dengan berbagai
bentuk.

Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang
yang menyampaikan kritikan. Pertama,
kritiknya benar dan caranya pun benar.
Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya
menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak
benar dan caranya pun menyakitkan.

Bentuk kritik yang manapun datang kepada
kita, semuanya menguntungkan. Sama
sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita
dihadapan sesiapapun, sekiranya sikap
kita dalam menghadapinya penuh dengan
kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah
SWT. Kerana, sesungguhnya kemuliaan dan
keredhaanNyalah yang menjadi penentu itu.

Allah SWT berfirman, "Dan janganlah
engkau berduka cita kerana perkataan
mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi
Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui." QS. Yunus [10] : 65

Ingatlah, walaupun bergabung jin dan
manusia menghina kita, kalau Allah
menghendaki kemuliaan kepada diri kita,
maka tidak akan membuat diri kita
menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah
ertinya kekuatan sang makhluk
dibandingkan Khaliknya? Manusia memang
sering lupa bahawa Kudrat dan Iradat
Allah itu berada di atas segalanya.
Sehingga menjadi sombong dan takbur,
seakan-akan dunia dan isinya ini berada
dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!

Padahal, Allah Azza wa Jalla telah
berfirman, "Katakanlah, Wahai Tuhan yang
mempunyai kerajaan. Engkau berikan
kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan
Engkau cabut kerajaan dari orang yang
Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Mahakuasa atas segala sesuatu." QS. Ali
'Imran [3] : 26

Mencari Kebahagiaan..

Suatu ketika, di tepian telaga kelihatan
seorang pemuda sedang duduk termenung.
Tatapan matanya kosong, menatap hamparan
air di depannya. Seluruh penjuru mata
angin telah di laluinya, namun tidak ada
satupun titik yang membuatnya puas.
Kekosongan makin senyap, sampai ada
suara yang menyapanya.

"Sedang apa kau disini wahai anak muda?"
tanya seseorang. Rupanya ada seorang
lelaki tua.

"Apa yang kau risaukan..?"

Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku
lelah Pak Tua. Telah berbatu-batu jarak
yang ku tempuh untuk mencari
kebahagiaan, namun tak juga ku temukan
rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari
melalui gunung dan lembah, tapi tidak
ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam
diriku. Kemana kah aku harus mencarinya?
Bilakah akan ku temukan rasa itu?"

Lelaki tua itu duduk semakin dekat,
mendengarkan dengan penuh perhatian. Di
pandangnya wajah lelah di depannya.
Lalu, dia mulai berkata, "Di depan sana,
ada sebuah taman. Jika kamu ingin
jawapan dari pertanyaan mu, tangkaplah
seekor kupu-kupu buatku."

Mereka berpandangan.

"Ya... tangkaplah seekor kupu-kupu
buatku dengan tanganmu," Pak Tua
mengulangi kalimahnya lagi.

Perlahan.... pemuda itu bangkit.
Langkahnya menuju satu arah, taman.
Tidak berapa lama, ditemuinya taman itu.
Taman yang semarak dengan pohon dan
bunga-bunga yang sedang mekar. Maka
tidak hairanlah, banyak kupu-kupu yang
berterbangan disana. Dari kejauhan Pak
Tua melihat, memperhatikan tingkah yang
diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan
mengendap-ngendap, ditujunya sebuah
sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran
itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke
arah lain. Dia tidak ingin kehilangan
buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Dia
gagal. Dia mulai berlari tak beraturan.

Diterjangnya sana-sini. Dirempohnya
rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan
kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan
perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun
belum ada satu kupu-kupu yang dapat
ditangkap. Si pemuda mulai kelelahan.
Nafasnya semakin kencang, dadanya
bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai
akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu
anak muda. Istirehatlah."

Tampak Pak Tua yang berjalan perlahan.
Ada sekumpulan kupu-kupu yang
berterbangan di sisi kanan dan kiri Pak
Tua. Mereka terbang berkeliling,
sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan?
Berlari dan menerjang? Merempoh-rempoh
tak tentu arah, menerobos tanpa peduli
apa yang kau rosak?" Pak Tua menatap
pemuda itu.

"Nak, mencari kebahagiaan itu seperti
menangkap kupu-kupu. Semakin kau
terjang, semakin ia akan menghindar.
Semakin kau buru, semakin pula ia pergi
dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam
hatimu. Kerana kebahagiaan itu bukan
benda yang dapat kau genggam, atau
sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri
rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari
kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sedari
kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Pak Tua mengangkat tangannya. Hap,
tiba-tiba, tampak seekor kupu- kupu yang
hinggap di hujung jari. Terlihat
kepak-kepak sayap kupu- kupu itu,
memancarkan keindahan ciptaan Tuhan.
Pesonanya begitu mengkagumkan, kelopak
sayap yang mengalun perlahan, layaknya
kebahagiaan yang hadir dalam hati.
Warnanya begitu indah, seindah
kebahagiaan bagi mereka yang mampu
menyelaminya.

PENGAJARAN CERITA INI:

Mencari kebahagiaan adalah layaknya
menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka
yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi
mereka yang tahu apa yang mereka cari.
Kita mungkin dapat mencarinya dengan
menerjang sana-sini, merempoh sana-sini,
atau menerobos sana-sini untuk
mendapatkannya. Kita dapat saja
mengejarnya dengan berlari kencang, ke
seluruh penjuru arah. Kita pun dapat
meraihnya dengan bernafsu, seperti
menangkap buruan yang dapat kita santap
setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahawa
kebahagiaan tidak boleh di dapat dengan
cara-cara seperti itu. Kita belajar
bahawa bahagia bukanlah sesuatu yang
dapat di genggam atau benda yang dapat
disimpan. Bahagia adalah udara, dan
kebahagiaan adalah aroma dari udara itu.
Kita belajar bahawa bahagia itu memang
ada dalam hati. Semakin kita
mengejarnya, semakin pula kebahagiaan
itu akan pergi dari kita. Semakin kita
berusaha meraihnya, semakin pula
kebahagiaan itu akan menjauh.

Mengapai kebahagiaan..

Cubalah temukan kebahagiaan itu dalam
hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan
abadi dalam hati kita. Temukanlah
kebahagiaan itu dalam setiap langkah
yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam
belajar, dalam menjalani hidup kita.
Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi
dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu,
dengan perlahan, dalam tenang, dalam
ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada
dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar
kita. Bahkan mungkin, bahagia itu
"hinggap" di hati kita, namun kita tidak
pernah memperdulikannya. Mungkin juga,
bahagia itu berterbangan di sekeliling
kita, namun kita terlalu acuh untuk
menikmatinya.

Bosan dengan kehidupan ini..?

Bosan dengan kehidupan ini..?

Seorang pemuda datang mengunjungi
gurunya lalu mengatakan, "Guru, saya
sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul.
Rumahtangga saya porak peranda. Usaha
saya tak menjadi. Apapun yang saya
lakukan selalu berantakan. Saya ingin
mati."

Guru dengan tersenyum berkata, "Oh, kamu
sakit."

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya
sihat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar
pembelaannya, Guru meneruskan, "Kamu
sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya,
'Alergik Hidup'. Ya, kamu alergik
terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang
alergik terhadap kehidupan. Kemudian,
tanpa disedari kita melakukan perkara
yang bertentangan dengan norma
kehidupan. Hidup ini berjalan terus.
Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi
kita menginginkan status-quo. Kita
berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit.
Kita mengundang penyakit. Resistensi
kita, penolakan kita untuk ikut mengalir
bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang
surutnya. Dalam perkara berumahtangga,
pertengkaran-pertengkaran kecil itu
memang wajar, lumrah. Persahabatan pun
tidak selalu selamanya, tidak abadi. Apa
kah yang selamanya, yang abadi dalam
hidup ini? Kita tidak menyedari sifat
kehidupan. Kita ingin mempertahankan
suatu keadaan. Kemudian kita gagal,
kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu dapat disembuhkan, asal
kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti
petunjukku." demikian ujar pak guru.

"Tidak guru, tidak. Saya sudah
betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak
ingin hidup." pemuda itu menolak tawaran
pak guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu
betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok petang kamu akan mati.
Ambillah botol obat ini. Setengah botol
diminum malam ini, setengah botol lagi
di minum esok jam enam petang dan jam
delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap guru
yang dia datangi selama ini selalu
berupaya untuk memberikannya semangat
untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia
bahkan menawarkan racun. Tetapi, kerana
dia memang sudah betul-betul jenuh, dia
menerimanya dengan senang hati. Pulang
kerumah, dia langsung menghabiskan
setengah botol racun yang disebut "obat"
oleh guru tadi. Dan, dia merasakan
ketenangan sebagaimana tidak pernah dia
rasakan sebelumnya.

Begitu rileks, begitu tenang!

Tinggal 1 malam, 1 hari, dan dia akan
mati. Dia akan bebas dari segala macam
masalah. Malam itu, dia memutuskan untuk
makan malam bersama keluarga di sebuah
restoran. Sesuatu yang sudah tidak
pernah dia lakukan sejak beberapa tahun
kebelakangan ini.

Oleh kerana ini adalah malam terakhir,
dia ingin meninggalkan sebuah kenangan
manis. Sambil makan, dia bersenda gurau.
Suasananya amat mendamaikan!

Sebelum tidur, dia mengucup bibir
isterinya dan membisik di telinganya,
"Sayang, aku mencintaimu." Kerana malam
ini adalah malam terakhir, dia ingin
meninggalkan sebuah kenangan manis!

Esoknya; bangun tidur dia membuka
jendela bilik dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya.
Dan dia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Pulang kerumah setengah jam
kemudian, dia menemukan isterinya masih
tertidur.

Tanpa membangunkannya, dia masuk ke
dapur dan membuat 2 cawan kopi. Satu
untuk dirinya, satu lagi untuk
isterinya. Kerana pagi itu adalah pagi
terakhir, dia ingin meninggalkan
kenangan sebuah manis!

Isterinya yang merasakan sesuatu
kelainan, berkata dalam hati "Selama
ini, mungkin aku salah. Maafkan aku,
sayang."

Di pejabat, dia menyapa setiap orang,
bersalaman dengan setiap orang.
Pekerjanya menjadi bingung, "Hari ini,
Boss kita ganjil ya?"

Dan sikap mereka pun langsung berubah.
Mereka pun menjadi lembut. Kerana siang
itu adalah siang terakhir, dia ingin
meninggalkan sebuah kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya
berubah. Dia menjadi ramah dan lebih
toleran, bahkan apresiatif terhadap
pendapat-pendapat yang berbeza.
Tiba-tiba hidup menjadi indah. Dia mula
menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 petang, dia
menemukan isteri tercinta menungguinya
di beranda depan. Kali ini justeru
isteri yang memberikan ciuman kepadanya
sambil berkata, "Abang, sekali lagi saya
minta maaf, kalau selama ini saya selalu
menyusahkan abang."

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan,
"Ayah, maafkan kami semua. Selama ini,
ayah selalu stress kerana perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir
kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat
indah. Dia membatalkan niatnya untuk
membunuh diri. Tetapi bagaimana dengan
setengah botol yang sudah dia minum,
petang semalam? Dia pergi bertemu dengan
gurunya lagi.

Apabila melihat raut wajah pemuda itu,
rupanya guru langsung mengetahui apa
yang telah terjadi, "Buang sahaja botol
itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh,
Apabila kau hidup dalam kekinian,
apabila kau hidup dengan kesedaran
bahawa maut dapat menjemputmu bila-bila
sahaja, maka kau akan menikmati setiap
detik kehidupan. Leburkan egomu,
keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah
lembut, selembut air. Dan mengalirlah
bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan
jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa
hidup. Itulah rahsia kehidupan. Itulah
kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju
ketenangan."

Dia mengucapkan terima kasih dan
bersalaman dengan guru, lalu pulang ke
rumah, untuk mengulangi pengalaman malam
sebelumnya. Konon, dia masih mengalir terus.

Dia tidak pernah lupa hidup dalam
kekinian. Itulah sebabnya, dia selalu
bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

Hidup bukanlah merupakan suatu beban
yang harus dipikul, tapi merupakan suatu
anugerah untuk dinikmati.

La tahzan..

la tahzan (jgn bersedih)

KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?
QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahawa
mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami
telah beriman," ("I am full of faith to
Allah") sedangkan mereka tidak
diuji? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji org2 yg sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg
benar dan, sesungguhnya Dia
mengetahui org2 yg dusta."
-Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA : KENAPA AKU TAK DAPAT APA
YG AKU IDAM-IDAMKAN?
QURAN MENJAWAB
"Boleh jadi kamu membenci sesua tu
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal
ia amat buruk bagimu, Allah
mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
- Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu
melainkan sesuai dengan
kesanggupannya."
- Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA : KENAPA RASA FRUST?
QURAN MENJAWAB
"Jgnlah kamu bersikap lemah, dan jgnlah
pula kamu bersedih hati, padahal
kamulah org2 yg paling tinggi darjatnya,
jika kamu org2 yg beriman."
- Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU
MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman!
Bersabarlah kamu (menghadapi segala
kesukaran dalam mengerjakan
perkara-perkara yang berkebajikan) , dan
kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada
kesabaran musuh, di medan
perjuangan), dan bersedialah (dengan
kekuatan pertahanan di daerah-daerah
sempadan) serta bertaqwalah (be fearfull
of Allah The Almighty) kamu kepada
Allah supaya, kamu berjaya (mencapai
kemenangan)."

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU
MENGHADAPINYA?
QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah)
dengan jalan sabar dan mengerjakan
sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang
itu amatlah berat kecuali kepada
orang-orang yang khusyuk"
- Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DRPD
SEMUA INI?
QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari
org2 mu'min, diri, harta mereka
dengan memberikan syurga utk mereka... ?
- Surah At-Taubah ayat 111

KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan
selain dari Nya. Hanya kepadaNya
aku bertawakkal."
- Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA : AKU TAK DAPAT TAHAN!!!
QURAN MENJAWAB
"... ..dan jgnlah kamu berputus asa dr
rahmat Allah. Sesungguhnya tiada
berputus asa dr rahmat Allah melainkan
kaum yg kafir."
- Surah Yusuf ayat 12

original from La Tahzan book grab from Msrizal..

Kisah 4 batang Lilin..


Ada empat lilin menyala, sedikit demi
sedikit habis meleleh. Suasana begitu
sunyi, sehingga terdengarlah percakapan
mereka;

Yang pertama berkata ...

"AKU ADALAH DAMAI, namun manusia tak
pernah mampu menjagaku. Maka lebih baik
aku mematikan diriku saja!"

Maka sedikit demi sedikit lilin itu padam .

Yang kedua berkata....

"AKU ADALAH IMAN, sayang aku tak berguna
lagi. Manusia tak mau mengenalku, untuk
itulah tak ada gunanya lagi aku untuk
tetap menyala."

Begitu selesai bicara, tiupan angin
memadamkannya .

Dengan rasa sedih, giliran lilin ketiga
berbicara ....

"AKU ADALAH CINTA, tak mampu lagi
manusia untuk tetap menyala dengan
cinta. Manusia tidak lagi memandang dan
menganggapku berguna, mereka saling
membenci, bahkan mereka membenci yang
mencintainya, membenci keluarganya!"

Tanpa menunggu waktu yang lama , maka
matilah lilin ketiga .

Tanpa diduga..... ..

Seorang anak masuk ke dalam kamar, dan
melihat tiga lilin telah padam. Kerana
takut akan kegelapan maka ia berkata ,
"Ekhh , apa yang terjadi ? Kalian harus
tetap menyala , aku takut dalam
kegelapan!!" lalu ia menangis tersedu sedu .

Dengan terharu lilin keempat berkata .....

*Jangan takut , jangan menangis ........
selama aku masih ada dan tetap menyala
kita akan tetap dapat menyalakan ke tiga
lilin itu lagi , AKULAH HARAPAN !

Dengan mata bersinar , sang anak
mengambil lilin HARAPAN , lalu
menyalakan ketiga-tiga lilin lainnya .

Apa yang tidak pernah mati hanyalah
HARAPAN yang ada pada diri kita .... dan
masing-masing kita semoga dapat menjadi
alat seperti sang anak tersebut . yang
dalam situasi apa pun mampu menghidupkan
kembali 'IMAN , DAMAI , CINTA dengan
HARAPANNYA !!

original by Khairil..

Cermin Diri..


1. Senyum itu tanda kemesraan, diberi
kepada manusia dianggap sedekah. Ketawa
itu lambang kelalaian. Selalu dilakukan
hati akan mati. Dibuat di hadapan
manusia menghilangkan maruah diri.

2. Setiap kesalahan yang dilakukan
jadikanlah pengajaran, insaflah ini
tanda kelemahan diri, kesalilah
keterlanjuran itu dan berazamlah tidak
mengulanginya lagi.

3. Syukur nikmat dan sabar di dalam
ujian amat mudah diucapkan tetapi amat
sulit dilaksanakan.

4. Kesenangan dan kemewahan selalunya
membawa kepada kesombongan dan
kelalaian. Kesusahan dan penderitaan
itu, selalunya membawa kekecewaan dan
putus asa, kecuali orang yang mukmin.

5. Di antara tanda-tanda orang-orang
yang sombong itu cepat melahirkan sifat
marah, suka memotong percakapan orang,
suka bermujadalah yakni bertegang
leher,
nampak di mukanya rasa tidak senang
jika
ada orang yang lebih darinya di satu
majlis, bercakap meninggikan suara,
pantang ditegur, tidak ada tanda-tanda
kesal di atas kesalahan.

6. Orang yang sudah hilang sifat marah
(dayus), cepat melahirkan sifat marah
(lemah mujahadah). Orang yang ada sifat
marah tapi dapat disembunyikan kecuali
di tempat-tempat yang munasabah inilah
manusia normal.

7. Tahu diri kita hamba itu adalah
ilmu,
merasa diri kita itu hamba itu
penghayatan, yang kedua inilah akan
lahir sifat tawaduk, malu, khusyuk,
takut, hina dan lain-lain lagi sifat
kehambaan.

8. Jika kita mengingati dosa, kita
tidak
nampak lagi kebaikan kita, apatah lagi
untuk dibanggakan.

9. Lahirkan kemesraan kita sesama
manusia kerana itu adalah haknya tapi
jangan putus hati kita dengan ALLAH,
ini
adalah hakNYA pula.

10. Apabila rasa senang dengan pujian,
rasa sakit dengan kehinaan menunjukkan
kita ada kepentingan peribadi, tanda
kita tidak ikhlas membuat sesuatu
kebaikan.

grab from khairil..

Berat Segelas Air..

Pada saat memberikan kuliah tentang
Management Stress, Stephen Covey
mengangkat segelas air dan bertanya
kepada para siswanya:

“Seberapa berat menurut anda kira-kira
segelas air ini?”

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr
sampai 500 gr.

“Ini bukanlah masalah berat mutlaknya,
tapi tergantung berapa lama anda
memegangnya,” kata Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 minit,
tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama 1 jam, lengan kanan
saya akan sakit. Dan jika saya
memegangnya selama 1 hari penuh,
mungkin anda harus memanggilkan
ambulans untuk saya. Beratnya
sebenarnya sama, tapi semakin lama
saya memegangnya, maka bebannya akan
semakin berat.”

“Jika kita membawa beban kita terus
menerus, lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya lagi. Beban itu akan
meningkat beratnya,” lanjut Covey.

“Apa yang harus kita lakukan adalah
meletakkan gelas tersebut, berehat
sejenak sebelum mengangkatnya lagi.”
Kita harus meninggalkan beban kita
secara berkala, agar kita dapat lebih
segar dan mampu membawanya lagi. Jadi
sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan
petang ini, tinggalkan beban tersebut.”

“Bukan beban berat yang membuat kita
Stress, tetapi lamanya kita memikul
beban tersebut.” Stephen Covey.

grab from khairil.. he is my fren.. ^.^

Istighfar

RASULULLAH bersabda: "Semua anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah orang yang banyak bertaubat." (Riwayat Tirmizi).

Oleh itu, bertaubat dan mohonlah keampunan kepada Allah di atas keterlanjuran yang dilakukan, menyesali dan berazam tidak melakukan kembali dosa.

Taubat bermaksud menyesali perbuatan mungkar dan kembali mengikut segala tuntutan syarak. Sesudah hati bersih, tentulah mendapat sinar keimanan dari Allah.

Dengan bertaubat, ia dapat membersihkan diri daripada melakukan perkaramungkar dan maksiat.

Ini menjadikan jiwa tenang, bersih dan tidak gusar mengenangkan kesalahan lalu.

Apabila bertaubat dengan sebenar-benarnya, Allah akan mengurniakan ketenangan yang abadi dan menjadikan kita benar-benar beriman dan berserah kepada-Nya.

Pembersihan jiwa daripada melakukan segala dosa dan maksiat atau kegiatan tidak berfaedah perlu dilakukan secara berterusan dan tidak hanya mengikut masa kerana hidayah Allah itu tidak akan dinikmati jika seseorang itu tidak melakukan amalan secara berterusan.

Ini kerana jika taubat itu dilakukan selepas saja terasa diri bersalah dan kemudian mengulanginya, ia mendorong seseorang untuk mengulangi perbuatan maksiat dan kejahatan yang lain.

Selain itu, umat Islam digalakkan supaya lebih banyak beristighfar yang maksudnya memohon keampunan daripada-Nya.

Dengan beristighfar iaitu: ‘Astaghfirul-Lahal-Azim, allazi la ilaha illa Huwal Haiyul-Qaiyumu waatubu ilaih’ (Aku mohon keampunan kepada Allah Yang Agung, yang tiada Tuhan melainkan Dia, yang hidup lagi berdiri dengan sendirinya dan aku bertaubat kepada-Nya).

Sabda Rasulullah pula: "Sesiapa membanyakkan istighfar, nescaya Allah menjadikan untuknya setiap kesusahan itu ada kesenangan, setiap kesempitan ada jalan keluar dan dia diberi rezeki yang datangnya tanpa diduga." (Riwayat Ahmad).

Mengikut satu riwayat, Nabi beristighfar setiap hari tidak kurang daripada 70 kali.

Mengikut riwayat lain pula, 100 kali. Tujuan Baginda berbuat demikian, antaranya ialah agar dicontohi umatnya yang sentiasa terbabit dengan dosa.

Smoga Di Ampunkan Allah selalu..